Tentang Green Canyon, Pangandaran

image

Ketika kita mendengar kata green canyon
pasti pikiran kita langsung tertuju ke amerika
(USA). Ternyata green canyon itu ada juga
di Indonesia , Green canyon
Pangandaran atau masyarakat setempat
menyebutnya cukang taneuh berada di Desa
kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten
Pangandaran Jawa Barat, akses ke Green
Canyon bisa ditempuh dengan Transportasi
dari Pangandaran yaitu dengan angkutan
umun di antaranya Angkot dari Terminal
Pangandaran ke Terminal Cijulang dengan
jarak tempuh 1 jam pakai angkutan umum,
namun dari Terminal Cijulang harus pake
kendaraan Ojek untuk bisa sampai ke Green
Canyon dengan jarak kurang lebih 3 km ke
Green Canyon atau bisa pesan Angkot dari
Terminal Pangandaran ke Green Canyon .
Untuk dari jakarta kita butuh waktu kurang
lebih 11 jam untuk bisa mencapai cukang
taneuh atau green canyon. Green Canyon
merupakan Objek Wisata Alam yang
menyimpan berjuta pesona, berpacu dengan
arus sungai melintasi jeram yang cukup
menantang spot jantung kita, anda akan
berjumpa pula dengan keindahan bentuk
batu-batu Stalaktik-Stalaknit yang begitu
indah, menyusuri sungai dengan badan kita
langsung berenang ke air dan akan
membawa anda menyusuri sungai Cijulang
sepanjang 3 km untuk di Track Pengarungan
Body Rafting.
Yang membuat terkenal nya green canyon
itu adalah body rafting, apa itu body rafting,
hhhmmm Beda dgn rafting. Body rafting bisa
dibilang olahraga air yang cukup
menegangkan. Kita menyusuri sungai kurang
lebih 3-4 jam dengan medan yang berbeda
– beda, ada medan dengan arus air
tenang, medan dengan arus air yg ber arus
sedang dan yang menegangkan kita akan
mencoba arus yang sangat ekstrim nama
nya jeram setan. Penasaran.

KAMPUNG KUTA ; DUSUN ADAT YANG TERSISA DI CIAMIS

image

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis.
Kampung adat ini dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali (tabu), untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya Tatanan hidup bermasyarakat. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan, sekaligus mempertahankan kelestarian
mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.
Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede.
Selain itu, sumber air masih terjaga denganbaik.
Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, KecamatanTambaksari, tepatnya di dalam DesaKarangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara,
Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa
Tengah. Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil
angkutan umum ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok, dan tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapatmenggunakan kendaraan umum atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa.

Upacara Adat Nyuguh

Sesuai warisan leluhur, acara nyuguh itu harus dilakukan di pinggir Sungai Cijolang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jateng. Pernah satu kali acara nyuguh tak dilaksanakan, tiba-tiba seluruh kampung mendapat musibah. Padi yang siap panen rusak parah, sedangkan sejumlah hewan ternak ditemui mati menggelepar. Warga menyakini kerusakan itu terjadi karena “utusan” Padjadjaran itu tidak disuguhi makanan. Alhasil mereka pun
mencari makanan sendiri dengan cara
merusak kampung. Adapun perjalanan ke Sungai Cijolang
sekitar lima kilometer. Kini, Pak Kuncen pun kembali memulai ritual.
Doa kembali dipanjatkan sebelum warga menyantap makanan yang tersedia. Setelah berdoa, seluruh warga kemudianmenyantap makanan yang dibawa dari kampung. Makanan khas yang harus ada setiap
upacara. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung
Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya.

Sejarah Kampung Kuta Ciamis
<span class="
Kampung yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, berbatasan dengan Jawa Tengah itu dikenal sebagai Kampung adat. Ada beberapa versi mengenai sejarah Kampung Kuta ini. Menurut cerita rakyat setempat, asal-usul


Kampung Kuta berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Galuh. Konon, pada zaman dahulu ketika Prabu Galuh yang bernama Ajar Sukaresi (dalam sumber lain, tokoh ini adalah seorang pandita sakti) hendak mendirikan Kerajaan Galuh, Kampung Kuta dipilih untuk pusat kerajaan karena letaknya strategis.


Prabu Galuh memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk mengumpulkan


semua keperluan pembangunan keraton seperti kapur bahan bangunan, semen merah dari tanah yang dibakar, pandai besi, dan tukang penyepuh perabot atau benda pusaka. Keraton pun akhirnya selesai dibuat. Namun, pada suatu


ketika, Prabu Galuh menemukan lembah yang (Kuta) oleh tebing yang dalamnya sekitar 75 m di lokasi pembangunan pusat kerajaan itu. Atas musyawarah dengan para


punggawa kerajaan lainnya, diputuskanlah bahwa daerah tersebut tidak cocok untuk dijadikan pusat kerajaan (menurut orang tua,


“tidak memenuhi Patang Ewu Domas”). Selanjutnya, mereka berkelana mencari tempat lain yang memenuhi syarat. Prabu Galuh membawa sekepal tanah dari bekas


keratonnya di Kuta sebagai kenang-


kenangan. Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, Prabu Galuh dan rombongannya sampai di suatu tempat yang tinggi, lalu melihat-lihat ke sekeliling tempat itu untuk meneliti apakah ada tempat yang


cocok untuk membangun kerajaannya.


Tempat ia melihat-lihat itu sekarang


bernama “Tenjolaya”. Prabu Galuh melihat ke arah barat, lalu terlihatlah ada daerah luas terhampar berupa hutan rimba yang menghijau. Ia kemudian melemparkan sekepal tanah yang dibawanya dari Kuta ke


arah barat dan jatuh di suatu tempat yang sekarang bernama “Kepel”. Tanah yang dilemparkan tadi sekarang menjadi sebidang


sawah yang datar dan tanahnya berwarna hitam seperti dengan tanah di Kuta, sedangkan tanah di sekitarnya berwarna merah. Prabu Galuh melanjutkan perjalanannya sampai di suatu pedataran yang subur di tepi Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy, lalu mendirikan kerajaan


di sana. Cerita selanjutnya tentang Prabu Galuh tersebut hampir mirip dengan cerita Ciung Wanara dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh , bahwa Prabu Galuh kemudian


digantikan oleh patihnya, Aria Kebondan (dalam naskah disebut Ki Bondan). Prabu Galuh menjadi pertapa di Gunung Padang. Menurut versi tradisi lisan, Prabu Galuh


meninggalkan dua orang istri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Saat itu, Dewi Naganingrum sedang mengandung. Ketika Dewi Naganingrum melahirkan, Dewi Pangrenyep menukarbayinya dengan seekor anak anjing. Bayi itu kemudian dihanyutkan ke Sungai Citanduy. Melihat Dewi Naganingrum


beranak seekor anjing, Aria Kebondan yang menjadi raja di Galuh menjadi marah, lalu menyuruh Lengser membunuhnya. Namun Lengser itu tidak membunuh Dewi


Naganingrum, tetapi menyembunyikannya di Kuta. Adapun bayi yang dibuang ke Sungai


Citanduy itu kemudian ditemukan oleh Aki Bagalantrang di depan badodon (tempat menangkap ikan)-nya. Bayi itu dipungut dan diasuh oleh Aki Bagalantrang hingga remaja, lalu diberi nama Ciung Wanara.


Tempat Aki Bagalantrang mengasuh bayi itu sekarang disebut daerah “Geger Sunten”, sekitar 6 km dari Kuta. Ciung Wanara


kemudian merebut kembali Kerajaan Galuh dari Aria Kebondan melalui sabung ayam, sebagaimana yang diceritakan dalam naskah. Setelah Ciung Wanara menjadi raja, Lengser pun menjemputDewi Naganingrum sehingga bisa berkumpul kembali dengan anaknya.


image

Di Kampung Kuta terdapat mitos tentang Tuan Batasela dan Aki Bumi. Diceritakan bahwa bekas kampong Galuh yang telah diterlantarkan selama beberapa lama ternyata menarik perhatian Raja Cirebon dan
Raja Solo. Selanjutnya, masing-masing raja tersebut mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, adapun Raja
Solo mengutus Tuan Batasela. Raja Cirebon berpesan kepada utusannya bahwa ia harus pergi ke Kuta, tetapi jika didahului oleh utusan dari Solo, ia tidak boleh memaksa jadi penjaga Kuta. Ia harus mengundurkan
diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati. Pesan yang sama juga didapat oleh utusan dari Solo. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya
masing-masing. Utusan dari Solo, Tuan Batasela, berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung, lalu beristirahat
di sana selama satu malam. Jalan yang dilaluinya itu hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Penyeberangan itu
diberi nama “Pongpet”. Adapun Aki Bumi dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui jalan curam, yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama
“Regol”, sehingga tiba lebih dulu di
Kampung Kuta. Sesampainya di sana, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban- penertiban, seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang
disebut “Pamarakan”. Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim di kampung tempat
ia bermalam, yang terletak di utara
Kampung Kuta. Konon, utusan dari Solo itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi. Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa “Di kemudian hari, tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu.” Ternyata, hingga saat ini rakyat di Kampung itu memang tidak ada yang kaya. Karena menderita terus, Tuan Batasela
kemudian bunuh diri dengan keris. Darah yang keluar dari luka Tuan Batasela berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut “Cibodas” Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas. Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara
Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal, lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung
Margamulya. Tempat makam itu disebut “Pemakaman Aki Bumi”. Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan bahwa yang menjadi kuncen
di Kampung Kuta berikutnya adalah orang- orang yang dipercayai oleh Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini. Mitos-mitos yang dituturkan oleh tradisi lisan
terkadang mempunyai keterkaitan dengan mitos yang diceritakan dalam sumber naskah. Keterkaitan itu kemudian menimbulkan pertanyaan bagi kita, apakah si penutur mitos yang bersumber pada naskah atau naskah yang ditulis berdasarkan
penuturan. Jika dirujuk pada usianya, maka tradisi lisan telah ada sebelum tulisan muncul sehingga dapat diasumsikan bahwa naskah ditulis berdasarkan cerita yang dituturkan. Tradisi lisan yang terus ada hingga saat ini, seperti yang dituturkan oleh
para kuncen atau tukang cerita terdapat dua kemungkinan mengenai asal-usulnya.
Pertama, tradisi lisan itu berdasarkan cerita naskah yang dibaca kemudian dituturkan kembali. Kedua, tradisi lisan itu memang belum pernah dituliskan dalam bentuk naskah, lalu dituturkan secara turun- temurun. Adanya perbedaan versi suatu
cerita yang dituturkan dalam naskah dan tradisi lisan disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan sumber cerita, distorsi cerita karena pewarisan cerita yang turun-temurun memungkinkan terjadinya penambahan ataupun
pengurangan isi cerita, dan adanya
keinginan dari penutur cerita untuk
mengedepankan peranan seorang tokoh ataupun berapologia atas kesalahan tokoh tersebut. Demikian pula dengan cerita tentang Kampung Kuta di atas. Ada beberapa bagian yang hampir mirip dengan cerita yang dikemukakan dalam naskah dan
ada pula yang berbeda jalan ceritanya.
Adapun mengenai kebenaran isi cerita atau mitos tersebut bukanlah suatu permasalahan. Setidaknya, mitos-mitos tersebut dihormati
dan dipelihara oleh masyarakatnya. Lebih jauh, bukankah ilmu pengetahuan juga pada
awalnya berkembang dari bentuk pemikiran mitis. Hingga saat ini , Kampung Kuta tetap dilestarikan sebagai kampung adat atau
petilasan. Masyarakatnya masih memelihara dan melestarikan tradisi-tradisi leluhur mereka. Pantangan-pantangan pun dibuat untuk menjaga kelestarian tradisi itu, seperti
larangan membuat rumah dari tembok dan memakai atap genteng, larangan mengubur mayat orang dewasa kecuali bayi kecil dan
dalamnya pun tidak melebihi pangkal paha, larangan menggali sumur terlalu dalam, larangan mementaskan wayang, larangan meminum minuman keras, tidak boleh
sombong atau menentang adat kuta, dan sebagainya.
Dengan masih bertahannya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang berada di Ciamis ini, sepatutnya harus kita banggakan, karena dengan adanya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang masih
bertahan menunjukkan bahwai masih ada pelestari kebudayaan yang masih eksis hinga saat ini. Mari kita lestarikan warisan kebudayaan leluhur…..
Penulis: Mustafid

Leasing Motor NSC Finance Cibadak Sukabumi

PT Nusa Surya Ciptadana (NSC Finance) perusahaan
leasing resmi HONDA melayani pencairan dana tunai
dengan jaminan BPKB sepeda motor (Honda, Yamaha,
Suzuki, Kawasaki) proses mudah dan cepat, bunga
angsuran ringan, murah dan aman, motor diasuransikan
Khusus SUKABUMI dan sekitarnya.

Info Lebih Lanjut Hubungi Dedih atau Bapak Galau 085720814152/081297347224 pin: 2082f7d8

Ketahui, Tipe Kepribadian Penyebab Tubuh Melar Pola makan bukan satu-satunya penyebab seseorang tumbuh subur.

Pola makan bukan satu-satunya penyebab
seseorang tumbuh subur. Banyak faktor lain yang
mendukung pertumbuhan ini, salah satunya kepribadian.
Mengapa bisa? Fox News menuliskan beberapa alasannya.
Misalnya orang dengan kepribadian impulsif disebut sulit
untuk menahan keinginan. Ini terbukti dari sebuah
penelitian yang dilakukan tahun 1972. Sekelompok anak
ditawari dua pilihan. Satu atau dua marshmallow. Continue reading Ketahui, Tipe Kepribadian Penyebab Tubuh Melar
Pola makan bukan satu-satunya penyebab
seseorang tumbuh subur.

Terungkap, Penyebab Pria Jadi Pemalas Bisa karena mereka punya saudara wanita di keluarganya.

Penikahan cuma sekali seumur hidup. Jangan
sampai salah pilih pasangan. Bagi wanita, pertimbangan
memilih suami bisa jadi karena fisik atau karier. Tapi, ada
satu hal penting yang juga harus dipertimbangkan.
Yakni, kemalasan pria. Menikahi pria yang malas dan tak
terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga bisa
merugikan wanita. Continue reading Terungkap, Penyebab Pria Jadi Pemalas
Bisa karena mereka punya saudara wanita di
keluarganya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.